• Dengan berbekal pengalaman kerjasama dengan beberapa waralaba ternama di Indonesia, kami siap menjadi mitra anda untuk mengembangkan usaha lebih luas lagi.
  • Dengan berbekal pengalaman kerjasama dengan beberapa waralaba ternama di Indonesia, kami siap menjadi mitra anda untuk mengembangkan usaha lebih luas lagi.
  • Dengan berbekal pengalaman kerjasama dengan beberapa waralaba ternama di Indonesia, kami siap menjadi mitra anda untuk mengembangkan usaha lebih luas lagi.

Popular Posts

Liputan Majalah Kontan Edisi Juli 2009

Saturday, August 21, 2010 Labels:
Avanty Nurdiana | Minggu, 12 Juli 2009



COBA ANDA berkeliling di mal terdekat. Kira-kira ada berapa gerai bisnis waralaba yang bisa Anda temui? Bisa jadi Anda akan kesulitan menghitung dengan sepuluh jari tangan. Maklum, usaha dengan sistem waralaba memang tumbuh pesat di Indonesia, terutama oleh pengusaha lokal.

Perkembangan bisnis waralaba itu ternyata ikut membawa berkah bagi para pembuat lapak, gerobak, dan rombong (booth) waralaba. Maklum, sebagian pewaralaba tidak membuat sendiri gerobak dan booth waralaba mereka. Biasanya mereka meminta bantuan pihak ketiga yang mampu menangani order tersebut.

Gerobak dan booth yang khas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis waralaba di Indonesia. Peminat waralaba tipe gerobak dan booth adalah pemula yang ingin menjajal usaha waralaba. Maklum, modal yang dibutuhkan waralaba tipe sederhana ini relatif lebih murah dibandingkan dengan membuka gerai sendiri atau menyewa tempat di mal. Selain tipe gerobak, waralaba booth banyak diminati karena hanya membutuhkan lahan terbatas, murah, tapi tampak mencolok.

Desain yang menarik, unik, serta dihiasi warna-warni mencolok kerap menjadi daya tarik mereka. Nah, tentu tidak sembarang orang bisa mendesain dan membuat rombong dan gerobak seperti itu. Agar tidak terlihat kuno atau norak, sebagian perusahaan waralaba memakai jasa desainer profesional yang berpengalaman.

Desain unik penjaring omzet ratusan juta

Di tengah persaingan yang semakin ketat di antara pelbagai usaha waralaba, penampilan gerobak dan booth yang keren menjadi salah satu strategi menarik konsumen. Makanya, para produsen gerobak dan rombong waralaba umumnya memiliki latar belakang pendidikan atau minat di bidang desain.

Saat ini ada beberapa pemain di bisnis pembuatan gerobak dan booth waralaba, namun jumlahnya belum banyak. Padahal, setiap bulan order pembuatan gerobak dan booth waralaba bisa mencapai ratusan juta rupiah. Itu berarti peluang bagi pemain baru untuk masuk ke bisnis ini masih terbuka lebar.

Jika Anda tertarik ingin memanfaatkan peluang itu, ada baiknya Anda belajar dari pengalaman Hangga Pramudyanto dan Wahyu Karisma yang sejak beberapa tahun lalu telah menekuni bisnis gurih ini.

CV. Handal Karya

Kini nama Hangga Pramudyanto sudah dikenal baik dikalangan pengusaha waralaba. Pada awalnya, Hangga hanya menekuni bisnis desain interior lewat perusahaannya CV Handal Karya (Haka). Usaha yang dia tekuni sejak 2005 itu khusus menawarkan jasa perancangan dan pembuatan dapur (kitchen set).

Akibat persaingan ketat, Haka tidak bisa menghasilkan pemasukan secara kontinu. Dari sana Hangga berpikir keras untuk mengembangkan bisnisnya agar bisa lebih produktif. Saat itulah terbetik gagasan di benaknya untuk merancang dan mendesain gerobak serta booth waralaba.

Ia mengaku mendapat inspirasi pembuatan gerobak waralaba dari beberapa teman yang menjadi pewaralaba. “Mereka kesulitan mencari pembuat gerobak,” kata dia. Maka, terhitung sejak 2007 ia mulai memasuki bisnis dan booth waralaba berdesain unik.

Strategi bisnis Hangga ternyata mendapat sambutan hangat. Dalam waktu yang terbilang singkat, Hangga mendapat kepercayaan dari sejumlah waralaba ternama. Kebab Turki Baba Rafi, Motor Bridal, Bakmi Gila, dan beberapa merek waralaba lain memanfaatkan jasanya. Belakangan ia juga membidik konsumen nonwaralaba. Pengusaha yang baru memulai bisnis menjadi target pasarnya.


Selama dua tahun terakhir, Haka sudah merancang sekitar 20 model gerobak, rombong, maupun tampilan restoran. Latar belakang pendidikan Hangga di bidang desain interior sangat bermanfaat menunjang bisnisnya. Terkadang, ia juga mendapat banyak masukan dari pelanggan.

Untuk membuat satu unit gerobak atau booth, Hangga mematok biaya antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Adapun untuk desain dan pembuatan interior restoran, dia membanderol tarif Rp 100 juta. “Setiap bulan, rata-rata saya mendapat omzet sampai dengan Rp 150 juta,” ujar dia. Hangga mengaku margin yang dia dapat tidak begitu besar, hanya 20% dari desain dan pembuatan gerobak serta 10% dari restoran.

Omzet bisnis Hangga terbilang lumayan untuk ukuran orang yang belum lama terjun ke usaha pembuatan gerobak dan booth waralaba. Padahal, ketika mulai menjalankan usahanya, Hangga tidak banyak mengeluarkan duit untuk modal kerja. “Saya hanya butuh dana untuk menyewa ruko,” ujar pria yang memiliki workshop di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini. Modal awal usahanya saat itu Rp 15 juta.

Hangga mengaku Haka sendiri sebenarnya lebih banyak mengerjakan desain. Proses pembuatan gerobak dan booth dilakukan oleh tukang yang sudah menjadi langganan dia. Adapun bahan baku, ia baru membeli setelah ada pesanan yang masuk agar tak perlu menumpuk stok bahan.

Hangga sendiri sekarang sudah mempunyai 10 karyawan tetap. Mereka mengerjakan tugas di bidang pemasaran, desain, administrasi, dan teknologi informasi (TI). Adapun khusus pembuatan gerobak dan booth waralaba, ia justru masih mempekerjakan pegawai serabutan. “Saya juga menggunakan website sebagai media pema-saran,” kata pemilik situs klikhomes.com ini.

Rombongku

Usaha pembuatan lapak dan booth waralaba juga ditekuni oleh Wahyu Karisma dari Surabaya, secara tidak sengaja. Lelaki yang lebih akrab disapa Nobita ini mengaku bahwa semula dia menjalankan bisnis desain produk, seperti pembuatan displai sampai logo.

Lalu, suatu saat, ia bertemu dengan seorang pewaralaba yang semula hanya ingin memesan spanduk untuk bisnisnya. Tertarik dengan desain spanduk bikinan Nobita, pengusaha tersebut meminta dia agar merancang sekaligus membuat gerobak dan rombong. Dari hasil coba-coba itu, bisnis Wahyu terus berlangsung sampai sekarang. “Saya sudah berbisnis ini selama dua tahun sampai tiga tahun terakhir,” ujar Nobita.

Dia bilang, prinsip dasar dari bisnis ini adalah desain. Berhubung telah menggeluti bidang desain sejak lama, tak aneh Nobita tidak kesulitan mengembangkan bisnis. Setelah serius menekuni bisnis pembuatan rombong, ia mengubah nama bisnisnya menjadi Rombongku.

Saat memulai bisnis ini, Nobita mengaku hanya membutuhkan modal Rp 17 juta. Dana tersebut dia gunakan untuk membeli peralatan tukang senilai Rp 7 juta dan sewa tempat Rp 10 juta. Seperti Hangga, dia juga bekerjasama dengan tukang yang sudah berpengalaman menggarap gerobak.

Meski bermarkas di Surabaya, permintaan untuk membuat rombong atau booth waralaba justru banyak datang dari luar kota. “Bahkan ada pesanan yang datang dari Sampit dan Irian Jaya,” ucap dia.

Biasanya pesanan tersebut merupakan pesanan dari pewaralaba yang akan membuka cabang di kota-kota tersebut. Sampai kini Nobita berhasil merangkul 20 perusahaan waralaba yang menjadi pelanggan setia jasanya. Di antara mereka tersebut nama Coffee Toffee, Roti Maryam, Aba Abi, dan Burger Bandung.

Seperti penguasaha lain, p esanan yang membanjir itu didapatnya tidak dengan mudah. Ia telah mencoba berbagai cara pemasaran, seperti menyebarkan brosur di pameran waralaba, hingga beriklan di Facebook. “Sekarang banyak pelanggan yang mengetahui usaha saya dari website,” tutur Nobita yang memajang karyanya di rombongku.blogspot.com ini.

Untuk menggaet hati pelanggan, dia memberi keleluasaan kepada pemesan untuk memilih produk sesuai dengan anggaran yang dimiliki. “Kalau mau murah, bahannya bisa diganti dengan yang lebih murah,” kata dia. Ia juga memperhatikan lokasi yang bakal menjadi target konsumen. Kalau di luar ruangan, ia akan menggunakan bahan baku yang lebih kuat. Jika lokasi pilihan pelanggan berada di dalam ruangan, ia bisa menggunakan bahan yang lain. Dus, kualitas rombong bikinannya bisa terjaga.

Strategi Nobita terbilang jitu. Dalam sebulan, kini, rata-rata ia menerima pesanan 10-20 unit gerobak maupun booth. Kalau lagi sepi, dia hanya mengerjakan tiga-empat unit. “Kisaran harganya antara Rp 1,8 juta sampai Rp 15 juta,” papar dia.

Pesanan yang paling banyak ia terima adalah booth dengan harga Rp 8 juta – Rp 10,5 juta per unit dan gerobak seharga Rp 1,8 juta per unit. Omzetnya kira-kira puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. “Hanya sekitar delapan bulan kami sudah balik modal,” ujar dia.

Kini, Nobita dibantu oleh delapan karyawan tetap yang bertugas membuat desain, memasarkan, dan menangani administrasi serta pekerjaan kantor yang lain. Selain mereka, dia juga mempekerjakan tukang yang merupakan pekerja serabutan hingga 30 orang.

Usaha pembuatan gerobak dan booth memang menjanjikan, seiring makin populernya bisnis berbasis waralaba. Meski begitu, pengetahuan tentang desain dan ide-ide kreatif sangat dibutuhkan di bisnis ini.

Jadi, kalau benar-benar tertarik mengambil peluang di bisnis ini, ada baiknya Anda membekali diri dengan kemampuan mendesain. Atau, paling tidak, pekerjakan orang yang benar-benar bisa mendesain.

Berani menerima tantangan untuk membuat gerobak?

Dikutip dari Kontan Weekend :
http://weekend.kontan.co.id/index.php/read/xml/peluang-usaha/2991/memang-unik-pewaralaba-tentu-tertarik/comment-page-1?wpc=dlc#comment-249

avatarKlikhomes
Spesialis Home Furnishing, kitchen set, interior, and booth/counter waralaba

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggal komentar anda disini seputar pertanyaan yang berkaitan dengan artikel

 
Harga Gerobak | Gerobak Waralaba | Gerobak Usaha | Rombong | 08119621112 © 2010 | Modified by angga | Sponsor by klikhomes.com